Kisah Mengerikan Henry "Jigsaw" Holmes, Pembunuh Berantai Pertama di amerika


Henry Howard Holmes adalah seorang pemuda yang cerdas. Ia mampu menyelesaikan studinya di jurusan kedokteran Universitas Vermont dan Universitas Michigan. Akan tetapi, kepintarannya itu malah membuatnya menjadi seseorang yang sangat jahat, licik, dan licin.
Holmes lahir pada tanggal 16 Mei 1861 di Gilmanton, New Hampshire, Amerika Serikat. Ia memiliki nama asli Herman Webster Musdgett. Ia tidak berasal dari keluarga yang mampu karena orangtuanya hanya bekerja sebagai petani.
Pada usia 17 tahun, ia menikah dengan seorang wanita bernama Clara Lovering. Wanita tersebut sangat mencintai Herman dan bahkan rela untuk menunjang segala biaya kuliah dari sang pujaan.
Namun, bak air susu dibalas dengan air ketuban, sang suami malah memperlakukannya secara kasar. Bahkan, karena saking tidak tahannya, Clara pun pulang ke rumahnya yang ada di New Hampshire.
Sang Jigsaw kemudian berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1984. Setelah lulus, Holmes pindah ke New York dan memulai petualangan membunuhnya di sana. Korban pertama adalah seorang anak kecil yang sempat terlihat bersamanya. Namun, tidak lama kemudian, anak tersebut dinyatakan hilang. Holmes sendiri berdalih jika anak itu pulang ke keluarganya. Tak lama setelah kejadian itu, ia langsung pindah ke Philadelpia untuk menghilangkan jejaknya.
Di kota barunya itu, Holmes bekerja sebagai seorang apoteker. Lagi-lagi ia tersandung kasus yang sama. Seorang anak tiba-tiba meninggal dunia setelah menerima resep obat dari tempatnya bekerja. Ia pun langsung pergi ke Chicago dan mengganti namanya menjadi Henry Howard Holmes. Di sana, ia mendapatkan pekerjaan barunya di apotek milik Elizabeth S. Holton.
Ketika bekerja di tempat tersebut, Holmes berhasil mengumpulkan cukup uang. Ia pun lantas membeli apotek milik Elizabeth dan suaminya yang mana merupakan teman kuliahnya. Setelah itu, ia memanfaatkan apotek dengan menjual obat palsu yang diklaim mampu menyembuhkan kecanduan minuman keras. Sebelum orang-orang mengetahui akan kebohongannya, ia kemudian memindahkan apotek miliknya tersebut ke tempat lain.


Pada tahun 1887, Holmes membeli sepetak tanah yang lokasinya tidak jauh dari apotek miliknya. Di atas tanah tersebut, Holmes menyewa tukang bangunan untuk mendirikan bangunan bertingkat dua. Pada tahun 1892, bangunan tersebut ditingkatkan lagi sehingga bertingkat tiga. Holmes sendiri berencana untuk menjadikan bangunan itu sebagai sebuah hotel. Hal itu tidak terlepas dari peluang pasar yang terbuka lebar karena pada tahun tersebut, Chicago tengah menjadi tuan rumah Festival Pameran Dunia sehingga banyak orang-orang yang akan mencari tempat penginapan nantinya.
Dari luar, bangunan milik Holmes tampak seperti bangunan megah. Bahkan orang-orang sekitar menjuluki hotel milik Holmes dengan sebutan “istana”. Namun, siapa sangka di balik kemegahan yang tersaji dari luar, hotel tersebut memiliki berbagai macam jebakan mematikan di dalamnya.
Holmes mendesain hotel miliknya dengan sedemikian rupa sehingga seluruh gerak-gerik para tamu dapat diketahui olehnya. Selain itu, desain hotel miliknya itu membuat ia bisa membunuh para korban dengan berbagai cara tanpa harus bertatapan langsung dengan sang calon korban.
Masing-masing kamar hotel pun dilengkapi dengan pipa gas yang dikendalikan langsung oleh Holmes dari kamar tidurnya. Salah satu cara membunuh Holmes yang cukup terkenal adalah dengan mengurung korban hingga tewas kehausan.
Setelah para korban terbunuh, Holmes kemudian membawa mereka ke ruang bawah tanah dan menguliti serta membuang daging mereka agar kerangkanya bisa dijual ke sekolah kedokteran.
Korban pertama dari kekejaman Holmes adalah wanita bernama Julia Smythe. Julia sendiri merupakan istri dari Ned Conner, sang penjaga toko perhiasan di hotel milik Holmes. Conner mulai bekerja di sana pada tahun 1890. Namun, begitu tahu istrinya telah berselingkuh dengan Holmes, ia kemudian cabut dari hotel tersebut. Tahun 1891, Julia dan anak perempuannya dinyatakan hilang. Holmes sendiri mengklaim kalau Julia meninggal akibat gagal ketika melakukan aborsi.
Pada tahun 1892, Holmes mencari seorang sekretaris pribadi. Emeline Cigrande kemudian melamar dan berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut. Seiring dengan kedekatannya dengan sang sekretaris, Holmes kemudian meminta Emeline untuk menikahinya. Tanpa rasa curiga, Emeline pun menerima tawaran tersebut. Namun nahas, tidak lama setelah keduanya bertunangan, Holmes malah menyekap Emeline sebelum akhirnya membunuhnya. Holmes pun menjual kerangka Emeline ke sekolah kedokteran setempat.
Holmes kemudian merekrut Minnie Williams sebagai stenografer pribadinya. Stenografer sendiri merupakan profesi semacam juru tulis saat terjadi percakapan lisan. Holmes kemudian membujuk Minnie untuk menyerahkan properti miliknya sebelum mengajaknya untuk tinggal bersama di apartemen pada tahun 1893. Tak lama setelah itu, Minnie bersama saudarinya yang bernama Nannie tidak pernah terlihat lagi.
Pada tahun 1894, Holmes memutuskan untuk pindah ke Colorado dan menikahi seorang wanita bernama Georgiana Yoke. Sementara ia pergi, hotel miliknya yang ada di Chicago diserahkan ke Pat Quinlan. Namun, pada tahun 1914, Quinlan ditemukan meninggal akibat overdosis. Tubuhnya ditemukan bersama dengan sepucuk surat kecil yang bertuliskan “saya tidak bisa tidur”. Beberapa pihak pun berspekulasi bahwa Quinlan melakukan tindakan bunuh diri karena tidak tahan dengan pemandangan mengerikan selama mengelola hotel milik Holmes.
Seperti halnya yang terjadi di film Jigsaw, Holmes sendiri memiliki pengikut setia untuk membantunya dalam melakukan berbagai tindakan kriminal. Orang tersebut bernama Benjamin Pitezel yang telah bekerja bersama Holmes selama bertahun-tahun. Namun sayangnya, Pitezel malah dikhianati oleh Holmes. Semua bermula ketika Holmes meminta Pitezel untuk memalsukan kematiannya agar bisa mendapat uang ganti rugi dari pihak asuransi. Agar terihat semakin meyakinkan, Holmes bahkan mencari mayat yang mirip dengan Pitezel.
Rencana tersebut berhasil dan pihak asuransi setuju untuk membayar biaya kematian Pitezel. Namun, bukannya membagi dua hasil dari uang tersebut sesuai dengan kesepakatan awal, Holmes malah justru membunuh Pitezel dan membakar mayatnya untuk menghilangkan jejak.
Holmes pun akhirnya berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian. Kejadian bermula ketika pihak asuransi merasa curiga saat seorang pria yang bernama Marion Hedgepeth melapor ke polisi. Marion sendiri merupakan teman Holmes dan dijanjikan akan menerima bagian uang dari ganti rugi asuransi jika bersedia mencarikan pengacara untuk Holmes. Setelah mendapat laporan tersebut, pihak kepolisian segera mencari Holmes dan berhasil menangkap sang penjagal ketika berada di Boston.
Saat diperiksa inilah sepak terjang Holmes sebagai pembunuh berantai terkuak. Setidaknya ia bertanggung jawab atas 27 kasus pembunuhan. Ketika hotelnya yang berada di Chicago digeledah, polisi menemukan peti berisi kerangka wanita, tumpukan baju dengan lumuran darah, serta timbunan tulang belulang yang diyakini berasal dari anak kecil.
Tertangkapnya Holmes membuat warga Chicago geger dan menjulukinya sebagai “Beast of Chicago”. Holmes dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi di Penjara Moyamensing pada tahun 1896.
Ada cerita horor terkait kematian Holmes. Ketika dieksekusi gantung, ia dilaporkan tidak langsung mati dan baru dinyatakan tewas setelah 15 menit tergantung di udara. Sebelum dieksekusi, Holmes pun sempat menuliskan catatan yang berisi tulisan yang cukup mengerikan.
"I was born with devil in me. I could not help the fact that i was murderer, no more than the poet can help the inspiration to sing. I was born with "the evil one" standing as my sponsor beside the bed where i was ushered into the world and he has been with me since."
Hotel jagal miliknya sendiri yang berada di Chicago kemudian dibeli oleh A. M. Clark yang berniat mengubah hotel menjadi semacam tempat wisata angker. Namun, sebelum niatnya terlaksana, dua orang tak dikenal membakar hotel tersebut hingga dua lantai atasnya terbakar habis. Lantai dasar dari hotel tersebut lantas diratakan dengan tanah pada tahun 1937 sebelum akhirnya dibangun ulang sebagai Kantor Pos Englewood.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed with by Way2themes | Distributed by Blogspot Themes